Senin, 24 Oktober 2016

Hujan hari ini : sesak! kelabu & biru 😟😟😟

Aku bangun dalam sesak mendalam krn peristiwa kemarin.
Sore kemarin, hujan begitu deras tercurah. Membuat langkah malas beranjak dr kehangatan rumah.
Namun 1 tugas masih harus dilaku. Menjemput dua anak merak selepas pembukaan acara di sekolahnya.
Tepat di perempatan baji minasa, hp ku berdering. Bapak merak.
"Anak2 minta dijemput bun..."
"Aku sudah di jalan, tapi maaf lambat. Hujan besar membuat beberapa titik jalan penuh air & semua kendaraan melambat."
"Ok. Take care..."
"Huum.."
Sampai di sekolah, kurapatkan si black ke halaman. Kostum penyelamatanku sudah lengkap. Sandal jepit ungu, leging kutarik tinggi, payung besar & kujemput para kesayangan ke gerbang.
Tapi... ah, begitu sulit menemukan 2 kesayangan itu diantara puluhan anak2 unyu yg berjubel di depan pintu gerbang. Tentu mereka cemas dgn cuaca itu. Barangkali, dr sudut mereka, dunia begitu kelam dgn kecipak air yg berhamburan ditingkah asap knalpot kendaraan penjemput & sorot lampu. Abu2! Suram!
Memang beberapa dari mereka bahagia, basah kuyub menari di tengah hujan, lalu dgn bahagia pula menerobos kerumunan, kembali masuk ke dalam gedung sekolah tanpa merasa bersalah sudah membuat rekan lainnya ikut merasakan dinginnya air yg menetes dr kaus2 olah raga mereka. Ah... anak2...
Tapi aku juga yakin, ada beberapa diantara mereka yg tak nyaman dgn hujan. Entah krn takut dimarah atau takut takut yg lain.
Sore itu, semua anak laki2 mendadak sama rupa. Kepala dgn potongan cepak & kostum olah raga. Anak2 perempuan mendadak juga kembar dgn kucir & rambut basah. Dimana aku harus menemukan 2 ekor anak merak itu kecuali mendekati security & memintanya mengumumkan lewat toa sekolah.
Tapi, utk sampai ke lokasi security berdiri, payung itu mesti kulipat, mesti berjuang menerobos kerumunan & itu pasti : basah kuyub.
Oke... kulakukan. Sedetik dr pengumuman, punggung ku ditepuk. Aku tau dari tekananan tepukannya, mas bule.
"Aku sudah di sini dr tadi," katanya dgn senyum lebar. Baiklah, kuantar dia menuju si black. Masih 1 yg blm kudapat. Aku balik lagi.
5 mnt berlalu, gadis kucir satu itu tak juga nampak. Sepertinya aku harus kembali merengsek ke dalam utk menyapa security. Kembali.
Baiklaaah... basah yg ke dua ini lbh terasa krn curahan air juga semakin deras. Punggung & kepalaku basah kuyub. Sekali diumumkan, 2x, 3x belum juga si kucir 1 nongol. 4x, 5x. Kesabaranku mulai diuji. Lalu plak! Suara ceplak keras terdengar dekat. Aku menoleh. Sebuah drama tak elok dipertontonkan.
Seorang ibu dgn anak perempuan membuat adegan. Pipi anak perempuan itu merah, aku pikir anak itu pasti sangat2 kedinginan sampai pipinya begitu merah merona. Lalu terdengar si ibu berteriak (di tengah kerumunan anak2) : darimana kao!!
Si anak menjawab sesuatu.
Lalu : plak!! Satu tamparan mendarat di pipi si anak.
Duh! Aku melongo. Rupanya itu yg membuat pipinya merona. Suara tadi yg membuat pipi si anak memerah, bukan karena kedinginan.
Aku tercekat. Melongo & makin intens memandang mereka berdua.
Sekali lagi aku mendengar teriak kemarahan si ibu, tak terlalu jelas karena mereka mulai menjauh dr rempatku berdiri, tapi mukanya menghadap ke arah ku. Matanya bengis. Si anak menjawab. Daaaan lagi, ceplak!!! Satu tamparan mendarat di pipi putihnya.
Ya Tuhanku & Allahku....
Mendadak ada rasa sakit di dalam yg tak bisa kujelaskan.
Entah di bagian hati atau tenggorokanku yg tak mampu menelan pahitnya ludah.
Aku bertanya pada diriku :
Sepadankah tamparan itu mengungkapkan kesal krn panggilan security tak terdengar oleh anak2?
Tak sakit kah hati si anak diperlakukan begitu? Di depan teman2 nya, di depan banyak mata yg keheranan atau bahkan kaget dgn pemandangan itu.
Aku bertanya lagi dlm hati :
Apa yg bakal diterima anak perempuan itu di dalam mobil? Di rumah?
Ataukah... itu caranya mengungkapkan sayang?
Ahhh.... hujan kali ini membuatku gerah.
Hujan kali ini menyisakan resah.
Hujan kali ini benar2 abu2, kelabu cenderung membiru.
Aku terluka 
(Sebelum tidur, aku masih terngiang penekanan pastor Paulus Tongli dalam homilinya dalam misa HUP semalam : kata2 kotor, dipikirkan pun jangan, apalagi diucapkan.)
"Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur."  (Ef 5:4)
NB : utk sahabat2 terkasih Selvi Wilson, Alexander Wilson, Theo Tongli & Feronika Lindawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar