Rabu, 03 Agustus 2016

#KONTEMPLASI

Ditingkah gemericik air membasahi perabotan dapur yg semalam belum sempat kucuci, telingaku mendengar sinergi suara yg membuatku begitu merasa dicintai Tuhan.
Suara sapu tetangga di seberang gang, yg wajahnya pun tak pernah ku tau, tapi dari suara gesekan sapunya yg begitu mantab & teratur, bisa kupastikan bahwa beliau baik2 saja, bersemangat serta menikmati kegiatan menyapunya. Sehat selalu ya tetangga...
Sementara burung2 kutilang riang berkicau di tali jemuran belakang rumah. Mereka juga nampak begitu gembira. Suaranya keras & lantang, meloncat ke sana kemari. Aku jadi teringat jagoanku. Biar badannya bongsor tapi tingkahnya masih seperti anak2. Meloncat ke sana kemari. Aku tersenyum.
Lalu sebentar suara bentor berlalu dari jalan depan kompleks, ah.. tetangga di ujung belakang sudah memulai aktifitasnya. Puji Tuhan, berarti mereka juga sehat.

Aku, memandang tumpukan cucianku.

Mengeluh? Tidak... justru aku sedang menikmati kontemplasi ini. Suara2 yg biasanya mengganggu samadi, pagi ini terdengar seperti nyanyian doa para suster karmel di Tumpang. Indah & menggelorakan jiwa. Ahh... baru kusadari, ternyata aku begitu merindukan mereka, yg dengan tulus membaktikan dirinya memuji junjungannya.

Kontemplasi?
Iya... ini nyanyain indah untuk jiwa yg seharian kemarin resah.
Betapa Tuhan begitu kuat memeluk ku, sehingga berbagai terpaan rasa pun kuat kulewatkan karena tangan-Nya lah yg menanggung hempasannya.

Prabotan makan & memasak ini seperti diriku. Kadang tangan orang lain yg diutus-Nya untuk membersihkanku. Walau sering tapasnya terlalu kasar & terlalu kuat menekan, tapi semua punya tujuan utk membersihkan. Di saat yg lain, aku sendiri yg harus membereskannya. Kulakukan dengan perlahan, menelisik setiap lekukan & sudut, jangan sampai ada sisa minyak atau makanan masih bersarang di permukaannya. Kadang pula dengan kesal & terburu karena pemakainya jorok meninggalkan sisa makanan & saus tanpa membersihkannya terlebih dahulu.

Aku tersenyum. Selesai sudah tumpukan piring terakhir. Kubasuh tanganku, mengeringkannya dengan lap hangat di ujung jendela dapur. Lap itu begitu hangat karena dia baru saja bercumbu dengan sang matahari. Kulihat dia mengerling bangga.

Halo matahari.... walau kadang siangmu membakar terik, tapi pagi ini kau membelai manis seluruh isi bumi. Terimakasih utk hangatmu ya...

Lalu aku teringat, semalam... ada tangan hangat yg melingkar tenang di pinggangku. Nafasnya teratur menyentuh leherku. Tangan yg daripadanya aku belajar banyak tentang sebuah : SABAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar