Kamis, 21 Juli 2016

Hidung Kartun & PMR

"Bun, lihat! Besok harus dikumpul. Aku pilih apa?" Tiba2 hidung kartun menyodorkan kertas. Isinya pilihan tentang ekskul.
"Lah adek sudah milih apa?"
"PMR."
Aku sedikit kaget. PMR butuh banyak energi & kemampuan otot rasanya. Sudah mampukah bungsuku melakoninya?
"Sudah paham apa itu PMR?" tanyaku menyelidik.
"Sedikit. Kayak rescuer tp versi anak sekolah. Am ai rait?"
"Yup! Dan itu artinya selain brain nya jalan juga harus punya fisik bagus utk bisa menghandle korban loh. Adek yakin mampu? Latihannya kayak pramuka, mungkin sedikit lebih serius krn kalian sudah SMP. Pengetahuan dasar ttg pertolongan pertama pada kecelakaan pasti dapat. Trus pasti ada latihan fisiknya plus latihan2 gabungan dgn kakak2 PMR yg levelnya di atas kalian supaya pengalamnnya bertambah juga. Butuh banyak tenaga. Yakin mampu?"
Anak ini memang pintar, tapi sebagai ibu yg melahirkan & mengasuhnya sejak bayi, aku paham kekurangannya. Dan bahkan sampai saat ini pun masih banyak terapi yg harus dijalaninya. Sedikit rasa tidak rela, ah..bukan tidak rela, tapi khawatir dgn keadaannya.
"Ndak mau ikutan jurnalistik? Katanya pengen jadi penulis cerita?"
Aku mencoba peruntungan, siapa tau dia goyah iman.
"Memang sih pengen. Tapi kayaknya jadi anggota PMR itu lebih mulia. Bisa berguna bagi sesama. Kalau jurnalistik kan belajar buat diri sendiri bundee.. Katanya hidup itu harus berguna buat sesama..."
Wik!! Kalimatmu nak!! Aku tertohok.
"Jurnalistik juga berguna buat sesama kok. Tulisan2 mu bisa menginspirasi orang lain." Kilahku mencoba menggapai peluang.
"Tapi efeknya lama. Kalau PMR, pas upacara aja aku sudah bisa berguna buat sesama. Bagus kan?"
Ngeyel!! Sejak dalam kandungan bakat ngeyelnya sudah terbentuk.
"Ya sudah, terimakasih sudah mengajak bunda berdiskusi. Setidaknya adek tau plus minusnya jurnalis & PMR. Tinggal adik memilih mana yg sesuai sama kondisi adek. Okay??"
Kulihat senyumnya mengembang. Sejujurnya aku pengen mempengaruhi pikirannya utk mengikuti mauku. Setidaknya dia aman di jurnalistik. Gak perlu banyak aktifitas fisik. Tapi hati kecilku melarang.

Esoknya dia bersekolah seperti biasa. Kuingatkan utk membawa kertasnya waktu dia hampir berlalu ke sekolah bersama bapak merak.
"Tidak lupa kertas ekskulnya kan?" tanyaku memastikan.
"Sudah."
"Jadi diisi apa?" Aku masih berharap, siapa tau semalam dia memikirkan argumenku.
"Belum yakin. Nanti saja di sekolah."
Oh...

Hari itu, menunggu jam 1 terasa begitu lama & menggelisahkan.
Waktu kulihat kucirnya bergoyang ditingkah lambaian tangannya menyongsong hadirku, aku berharap-harap cemas.
"Akhirnya aku mantab pilih PMR. Tadi dijelaskan apa saja kegiatannya. Mengasyikkan. Tapi ada beberapa kegiatan outing yg mungkin butuh biaya tambahan. Gak papa kan bun?" celotehnya riang.
Aku melihat binar bahagia di matanya & semangat di rangkaian katanya.
Walau hati ini ada sedikit khawatir, setidaknya, aku tidak memangkas sayap2 harapannya. Dan aku bahagia.
"Okelah kalau begitu. Jadilah anggota PMR yg hebat. Bunda pasti mendukungmu."

Terbanglah wahai anak2 ku. Carilah bahagiamu. Kami hanya mampu membalutmu dgn doa2 yg kamirangkai dr untaian perjalanan kami dari harinke hari.

Setidaknya aku tidak memangkas bahagiamu. Aku bahagia.

"Tuhan telah menciptakan pada kalian jiwa bersayap untuk terbang mengarungi cakrawala cinta dan kebebasan. Betapa sedihnya memotong sayap itu dengan tanganmu sendiri dan menyiksa jiwamu seperti kutu yang merayap di atas bumi” (Kahlil Gibran)

Mas Bule & Celana Sobek

Pada sebuah laporan tentang celono sragam suwek.
Aku bukan ibuk yg rendah suara.
"What?? Yok opo polahmu cah byaguusss... kowe kelas 7 opo kelas 1 SD??" jeritku menyesali kathok kotak2 anyar yg baru dipake sekali seumur hidupnya di smp rajawali kota daeng tercinta inih. #ngos2anjempolku

Sik ditanya ketawa bahagia sambil njawab : "Sudah lupa to kalau kemarin beli sragam putih biru?"

Arep tak unyel2, tak kethak, tak ambungi...tapi kok duwur e wis sak podo aku..... #rakpantes
Lalu aku teringat. Alasan apa yg membuatku mendarmabaktikan jiwa & ragaku sepenuh keikhlasan kalbu menjadi anggota paskib di SMA??

Konco2 sma ku we do ra ngerti sampek saiki. Ini sungguh2 wadi alias rahasia besar yg kusimpan hingga saat ini.
Tapi demi kalian, sungguh akhirnya aku harus bertwerus twerang saat ini :

Nek kon upacara trus aku ra tugas, sirahku ngelu trus aku semaput.
Bosen & bingung meh ngopo selama upacara.

Jyal, masih pantaskah aku bertanya :

bocah lanang byagus itu nurun sopo???

Selasa, 19 Juli 2016

Mas Bule & Dasinya

"Bun, dasi kotak belom ada," kata masbul tiba2.
"Kok kamu tau mas?" tanyaku heran.
"Aku tadi iseng ke bag seragam, katanya 2 minggu lagi. Untung sih gak ada?"
"Kok?"
"Coba ada, aku kan bingung... ternyata di sakuku cumak ada 8 ribu hahaha..."

Dasar masbul...😃😃😃
Tapi aku bangga, naik kls 7 kedewasaannya juga ikutan naik. Semangatnya utk memudahkan induknya membeli seragam yg blm lengkap sungguh membuatku harus mengacungi 4 jempolku.
Teruslah berkembang anakku.

Kearifan Tanpa Kasta

Kearifan memang tidak mengenal kasta.

Saya punya langganan baru untuk urusan permak baju. Penjahit rumahan biasa. Workshopnya di bangunan sederhana, bercampur dengan tempat tinggal di belakangnya plus toko kecil tempat mereka menjual aneka barang seperti permen, rokok, minuman ringan sampek pembalut juga ada. Pembalut baru tentunya (kelingan crita darah vampir). Di depannya ada etalase kecil tempat si istri menata dagangan berupa kue2 kecil yg orang jawa sukak bilang : "jajan pasar".

Kebetulan akhir2 ini ada sedikit keinsyafan utk mulai berpakaian sopan. Bukan dalam arti dulunya sukak pake yg seronok2 begono. Lagian, opone sik mau dipamerkan? Badan setipis papan setrikah. #lhamalahcurhat
Dulu, dulu banget yah... gaya perpakaianku lumayan slebor. Sak karepku. Mungkin mas koko juga sedikit empet melihatnya. Cukup kalau istrinya dikasih "huuh" saat memasuki daerah penjualan t-shirt & celana jeans. Aman lah.
Akhir2 ini induk merak mulai tergoda untuk memakai batik. Biasanya memang batik bersliweran di pojok2 kamar menanti pengiriman alias utk  di jual saja. Tapi embuh setan apa yg merasuki, kok lama2 barang dagangannya jadi terasa lucu n ketjeh buat dicobak yah? 😃😃 #tolongtidakusahdiusirsetannya

Tapi ya maklum, namanya beli onlen, kan ga ada yg fit plek to our body lah yawww. Kadang size M tapi LD nya ukuran Miss Piggy, yo mesti permak babak belur di area dada. 😛

Yo balik maning ke cerita bapak e itu. Kemarin aku minta tolong sm beliau membuatkan  celana biru esempeh utk masbul plus minta tlg permak batik baruku yg ujung lengan e ngecenceng naik. Jadi kalau dipake tuh ya, aku jadi macam pake baju jazirah ngono. Jadi aku mintol bapak e utk nge-grek dikit ujungnya. Plus jahitin celana kotak2 barunya masbul (hel tu the looo!!! Catet yah : celana seragam, gris baru datang dr tokonya) & baru dipakek sekali. Sekali doang saat ituh. Pun segera sobek gegara polahannya. Paham kan sayang, seperti apa polahan joko 13 taun yg namanya Micahel Krishna Shaka Maheswara tralala ituh...

Pun. 2 hari berlalu. Tadi pagi kuambil jahitanku.
"Sudah jadi pak?"
"E sudah ibuk, ambil mi sama istri saya."
Si bapak sudah siap dgn motornya membonceng anak tengahnya mau sekolah.
Yup, kantong item isi celana plus 1 dress batik kuterima dr tangan istrinya.
"Berapa ?"
"Tidak usah," begitu jawabnya dr atas motor.
"Ih lha... ini kan dijahit. Berapa ki bapak?"
"Eh, ndak usah ibuk. Itu kan cm jahit sedikit."

Aku melongo. Weh pak.. biar sedikit, kalo saya yg harus njait ya jadi brutal! Mesti beli mesin jahitnya berapa duit, njur mecucu ngomel sambil ngesumel menyesali kenapa celono anyar bisa jimbret njlepat semua begono, itu lebih dari sekedar duit pak. Itu mengorbankan rasa & hatiii #hiks

Karena ttp ngeyel, yo wis aku mengalah.
Dalam perjalanan pulang, aku merasa, betapa kayanya mereka. Aku yg barangkali gak perlu susah2 ngonthel pedal mesin jahit buat ngelahap seisi tokonya, kadang misi kwenceng berhitung dgn org lain. Mbethithil uthil e. #dilarangkerasngomenygini

Salam sungkem pak, matur nuwun sudah kerso jd utusannya Gusti buat mengingatkan saya.
Bahwa ; tak semua perkara bisa dihargai dgn mani....mani... mani.... #karonyanyi

Suwun nggih pak...

#fotokoleksi dearyzakiyah.wordpress.com

Minggu, 17 Juli 2016

Belajar dialoq

Dialoq itu butuh dipelajari, butuh dipraktekkan ber-kali2, sampai bisa mengerti : sakjane opo toh karepmu?

Bukan hanya ketrampilan melepas kata2, lalu hasilnya malah membumi-hanguskan rasa,
tapi harus ada tarian indah penuh makna, beralas hati yg tunduk merendah. Hingga akhirnya paham : itukah maumu wahai cinta?

Bukan juga jurus blokade dengan membungkam kata, hingga hanya suara jangkrik yg terdengar, itu membisu namanya.
Dialog datang dari 2 arah, bukan saling mencari celah untuk melakukan smash mematikan.
Datang dr 2 isi kepala yg membutuhkan jawaban & solusi.

Kalau mau menang2an, ikut saja kejuaraan tinju profesional. Yg menang akan dapat sabuk juara.

Tapi relasi bukan pertandingan memperebutkan mahkota juara...
Relasi adalah tarian jiwa yg runduk rendah memuji kebesaran Tuhan terhadap apa yg sekarang ada di depanmu, di genggamanmu, di jejak langkahmu, di hatimu, di seluruh jiwa kehidupanmu.

....dan pagi ini aku masih gembrobyos mempelajari liukannya. Rupanya otot2 rasaku masih kaku, belum mampu menari dengan gemulai.
               ....maafkan....

Besok aku akan berlatih lebih dalam, agar polah & kataku tak terlalu tajam mengiris kalbumu.
.....karena proses penghalusan masih membutuhkan waktu. Semoga kau dimampukan menunggu saat itu.

               ....setidaknya aku belajar, bukan diam bertahan dlm banggaku.

              .....sekali lagi maafkan....

Quote

Dapet quote bagus pagi ini sesaat setelah mengantar "anak mbarep", mas bule & hidung kartun :

"Antarlah dengan bangga, lepaslah dengan doa."

Iyah...hari ini aku bangga dengan mereka, juga hari2 sebelumnya & hari2 mendatang.
Dan aku akan selalu melepas dengan doa, hai para kekasih hatiku.
Semoga segala kebaikan menyertai perjalanan hidup kalian, sehingga kalian boleh berbagi kebaikan dengan sesama.

Dari aku,

induk merak

Jumat, 15 Juli 2016

Mbak Suwarti

Inih beberapa prolog tentang mbak Suwarti.

#1
Kenal mbak Suwarti?

Ahh rugi klo ndak kenal dia.

Saya dong kenal..., anak2 merak juga kenal....

Mbak Suwarti itu kru nya kafe KFC yg di ratulangi Makassar. Kami sering ketemu waktu dia shift pagi.
Awal pertemuan kami adalah saat suatu pagi kami sarapan di sana. Si embak datang bersama srg laki2, mencium tangannya lalu masuk ke gerai (meibi suaminya). Dengan rambut tergerai mencapai pantat. Owesome!
Haiyah...saya bukan mau laporan tetang bagaimana dia akhirnya bersiap, memakai topi merahnya lalu memutar2 rambutnya menjadi sebuah konde rapi di belakang kepalanya. Bukan ituu... (Aih, tapi kenapa aku juga ikut mengulas cara dia memutar-mutar rambut toh 😃😃)

Usai memesan menu breakfast, karena bosan dengan paketan minuman sesi breakfast, kami lalu menuju kafe.
Si mbak methungul dari posisinya bebenah di lemari bawah showcase.
Selamat pagi, ada yg bisa saya bantu? Suara renyahnya memecah keheningan. Bibir merahnya merekah memamerkan senyum yg aduhai. Sebagai mantan CSO, saya bilang : that's great service!! Senyum hangatnya penuh semangat plus penuh ketulusan. Kami merasa homy.
Anak2 merak pun mulai memesan minumannya.
Ada crushersnya? Tanya hidung kartun.
Masih dengan senyumnya : "Aduh maaf, belum beku adik. Bisa diganti yg lain? Ice choco blended mungkin?
Bibir hidung kartun pun monyong, kecewa. "Ya sudahlah, gpp mba.. ice choconya aja," jawab Vella menyerah.
"Ok baiklah, 1 choco blended. Mas nya pesan apa?"
Mas bule tetap setia dgn ice green-tea latte nya.
"1 ice choco blended, 1 ice green-tea latte, ibu pesan apa?"
Aku juga masih setia dgn hot tea tarik kuh.
"1 hot tea tarik ibu, tidak coba paketnya ibu? Hanya 12 ribu sudah sepaket dengan donat?" Wajahnya tetap sumringah menawarkan promo itu kepadaku.
"Oh boleh lah mba... 2 kalau begitu."
"Baiklah, donatnya mau yg toping apa?"
"Cheese & oreo saja," jawabku.
"Baiklah ibu, 1 ice choco blended, 1 ice green-tea latte, 2 paket hot teh tarik dengan donut toping cheese & oreo. Totalnya sekian."
Aku membayarnya tunai.
"Ini struk & kembaliannya ibu, ibu duduk di mana?"
"Sebelah mba..tapi belum tau meja yg mana."
"Baik ibu, pesanannya akan saya antarkan, silahkan duduk. Ada lagi yg bisa saya bantu?"
"Ndak mbak, cukup."
"Baik ibu, terimakasih, silahkan datang kembali..."

Hangat... renyah... seperti tortila chips kesukaan kami. 😃😍

Just it? Mainstream banget kalo itu mah. SLA stp gerai KFC mungkin begitu kali ya.
Memang, tapi hal istimewanya adalah ketika dia memberikan hatinya bagi pekerjaan yg dilakukannya. Iya.. hatinya ada di wajahnya, ada di kata2 nya, ada di setiap gerakannya. Kami merasakan hangat hatinya. Itu yg membuatnya istimewa.

Lebih terasa bahwa dia memang istimewa pakai telor 4 adalah saat kami balik memesan makanan di konter makanan. Dilayani oleh seorang perempuan juga, bergincu merah juga, bertopi merah juga, berpenampilan rapi juga. Lalu ketika saya bilang : mba.. lupa, ayamnya yg ori yah... jangan crispy..
Dan si embak itu hanya memandangku dengan ekor matanya, lalu mengangguk tanpa senyuman. Aku lupa catet namanya 😃😃😃

Di situ saya merasa lelah 😃😃😃.
Bak naik roller coaster bagian yg turunan menukiknya.
Ow la..laaaa... hidup service excellent!!

Dulu saya pelaku SE, sekarang saya penikmat SE. Dan jujur, di kota besar sekaliber Makassar, saya begitu kesulitan menemukan manusia2 service yg kualitasnya excellent begini.

NB : lebih terasa terjun bebas lagi saat pergi ke Hero di MARI, saat membayar belanjaan, mbak kasirnya sibuk memasukkan barcode sambil ngobrol gayeng dengan rekan sebelahnya tanpa memandang saya sebagai customer.

Mbak hidung kartun lalu bisik2 : mbaknya itu kayak gak ada waktu buat ngobrol yah bun? Ada customer kok dicuekin, malah ngobrol seru sama pegawai lain.

Lalu ku bilang : ada manusia biasa yg menjadi istimewa karena dia menempatkan dirinya secara istimewa.
Ada manusia yg mau dirinya terlihat istimewa tapi memperlakukan dirinya biasa2 saja.

Paham kan bedanya sayang...

#2
Masih tentang mbak Suwarti

Tapi pagi ini kami ndak ke KFC. Bukan karena kemarin disindir sm tt Anastasia Helda, tapi kebetulan bunda merak punya stok naget sama telur, jd cuss bapak merak sarapan nasi merah plus naget & ndog ceplok. #podowaerasehate

Tau nggak, kemarinnya itu kami bawa princess solo Gabriella Kalyca ikut rombongan sarapan tak sehat utk pertama kalinya. Lalu hidung kartun pamer. Tunggu yah ce, kamu bisa lihat betapa hebatnya mbak Suwarti.

Kami masuk kafe.
Pagi ibu & mbak2... ada yg bisa dibantu?
(Kaaan...kata hidung kartun, sapaannya yahud)
Aku seperti biasa mbak, mas bule duluan pesan.
Baik, 1 ice greentea latte ya mas #senyum (1 yess buat ku)
Kali ini crusher nya sudah ready mbak, mau? (1 yess lagi)
Kontan hidung kartun bungah. Iya mau jawabnya sumringah renyah.
Ibu seperti biasa? (1 yess again) Donatnya toping apa?
Mas bule menunjuk donat bertoping chinamon dari showcase.
Ada lagi bu yg bisa di bantu? Tanyanya setelah mengulang pesanan kami.
Enggak mbak, cukup.
Baik bu, saya akan antar ke sebelah sambil membawakan kembalian. Mohon maaf uang kembalian saya tidak lengkap. (Lengkap sudah yess saya untuknya)

Kami tertawa-tawa melihat kegesitan mbak Suwarti sambil berjalan meninggalkannya ke ruang sebelah.

Setelah memesan menu sarapan, princess solo pun membuka pembicaraan.

Mbaknya yg di sini pun ramah, tapi jempolku habis buat pelayanan mbak Suwarti bun.

Ahai!!! Semua jempol habis untuk dia.

Nah anak2, pekerjaannya boleh sama. Tapi kenapa kita habiskan jempol kita pull untuk mbak Suwarti? Karena dia menjadikan dirinya istimewa di mata kita. Itu berarti dia juga menempatkan dirinya istimewa di mata Tuhan.
Itulah filosofi berkerja sebagai ibadah.

Pahamkan sayang??
Anak2 merak itu pun berkicau riang menyambut pagi kemarin.

Nah, hari ini saya mau pamer kalau cerita ini bukan hoax, saya berhasil membujuk mbak Suwarti foto.
Tadi pagi, selesai hepi2 jalan pagi sama teman2, kami mbubur di pinggir Losari.
Rupanya bapak merak masih pengen segelas teh tarik. Akhirnya kami sepakat menuju KFC nya mbak Suwarti.

Taraaa... seperti biasa, senyumnya bak layar terkembang. Lebar!
"Aih ibuk, paketan teh tariknya kosong,"sambutnya memulai sapaan dengan renyah. Masih dengan bibir merahnya & full senyum.
"Ndak papa mbak, biar tanpa paketan saya tetap teh tarik," jawabku sambil melebarkan juga senyumku. Biar gak kalah manis sm si embak. 😊
"Kalau adek biasanya pesan apa bun?" tanya si cece.
"Kalau yg cewek biasanya ice choco blended, kalau yg cowok green tea," jawab mba Suwarti mantab. Padahal aku sendiri kebingungan menjawab pertanyaan Gabby.
1000 poin lagi buatmu mbak 😃😃😃

Jadilah kami menikmati minuman pagi itu dengan hangat & manis pula. Walau sedikit ada insiden si ayah membuat beberapa butir air mata si cc jatuh.

Asyudahlah...senyum mbak Suwarti cukup membuat suasana kemripik lagi kok. 😍

#capturebyGabby
#abaikanygkuning 😃😃😃

Taukah anda kegunaan aspirin?

http://www.providr.com/unconventional-uses-for-aspirin?utm_source=CASS&utm_medium=facebook&utm_campaign=providr

Kembangkan Kelebihanmu

Kembangkan Kelebihanmu

Dulu ada teman saya menulis tentang seorang gadis. Gadis itu cantik. Cantik itu hoki. Karena cantik, gadis tadi gampang dapat pekerjaan. Dengan senym manis saat wawancara ia diterima bekerja. Dengan keramahannya yang menyenangkan, ia disukai banyak orang. Karirnya meningkat cepat. Ia sukses karena hoki, tulis teman saya tadi. Kebetulan ia juga seorang perempuan.

Saya protes tulisan itu. Gadis tadi tidak hoki. Ia menyadari keunggulannya dan memanfaatkannya. Tapi ia memanfaatkannya dengan benar. Ia tidak menjual kecantikannya dalam pengertian seksual, untuk mendapatkan uang.

Itu saja? Tidak. Bagian ini yang sulit dilihat orang lain. Ia melakukan banyak usaha lain yang tidak disadari orang. Pertama, ia tidak membuat kesalahan dalam bekerja. Ia bekerja benar. Biarpun ia cantik, besar kemungkinan ia akan dibuang kalau terus melakukan kesalahan.

Ia ramah. Tidak mudah untuk ramah itu. Tidak mudah membangun suasana kerja yang menyenangkan. Suasana kerja yang menyenangkan mendorong banyak orang untuk bekerja lebih baik lagi. Tidakkah itu bisa dianggap hal besar?

"OK, lah," kata seorang gadis yang kebetulan tidak cantik. "Setidaknya ia lebih mudah masuk kerja daripada saya. Ia lebih mudah membangun suasana menyenangkan daripada saya. Tetap saja dia lebih hoki dari saya."

Kesalahanmu adalah kau mencoba meniru jalan orang yang memiliki kelebihan yang tidak kau miliki.

"Tapi, apa kelebihanku? Aku tak punya kelebihan."

Itulah masalah terbesarmu. Kau tidak pernah tahu apa kelebihanmu. Karena itu kau tidak pernah memanfaatkannya. Karena itu kau tidak pernah mengembangkannya. Kelebihan yang kau miliki akhirnya hanya jadi sesuatu yang sia-sia.

Seorang perempuan yang sedang bingung mengeluh pada saya.

"Saya harus bekerja, tapi saya tidak punya skill."

Kebetulan saya tahu, ia menguasai 2 bahasa asing. "Dua bahasa asing yang kau kuasai itu adalah skill yang luar biasa. Banyak orang bisa hidup dengan kemampuan satu bahasa asing. Kau punya dua, kau lebih punya kesempatan daripada dia."

Begitulah. Banyak orang gagal memahami sukses orang lain, menyandarkannya pada faktor yang tidak bisa diutak-atik: hoki. Ia tidak paham apa keunggulan orang itu. Makanya ia pun tak paham dan tak sadar apa keunggulan dirinya. Ia puas dengan jadi penonton hoki.

By : Prof. Hasanudin Abdurakhman

Dulu aku jugak sering mengedepankan prasangka, sehingga lebih banyak aura2 negatif yg kuserap.
Belakangan, FB banyak mempertemukanku dengan orang2 hebat yg outstanding banget hidup n pola pikirnya.
Membuatku kaya akan pengalaman, kaya pemahaman, makin luas lah perspektifku dalam memandang sesuatu. Bahkan berani melompat ke sisi yg lain supaya paham tentang sudut pandang yg berbeda.
Belio inilah salah satu yg banyak mempengaruhi pola pikir & pemahamanku, selain romo Maryono, SJ, Denny Siregar, ustad Ayiep Phee Liee hantolo 😃, bapak Arizeli Jely Bandaro.
Lalu ada srikandi hebat macam : Hanny Handayani, Lusia Prasanti, Retno Kristiani, Rovien Aryunia.
Tidak cuma mereka sih... setiap hari selalu muncul orang2 hebat yg pikirannya mampu memperkaya khasanah batin & pikirku. Puji Tuhan...

Banyak diantara mereka yg berbeda keyakinan, berbeda pola hidup, berbeda tk pendidikan bahkan ada yg pekerjaannya hebat2. Tapi kami bisa nge-blend. Berbagi, berkonfrontasi dgn sopan & berakhir dgn pemahaman.
Kami tak sama, tapi kami sama2 punya visi menjadikan diri manusia yg berarti di mata Tuhan melalui karya & polah masing2.
Saya sangat mensyukuri itu. Betapa Tuhan begitu baik mempertemukanku dgn mereka yg hebat & bermanfaat.

Jejak ku makin berirama, makin teratur. Tak lagi terlalu banyak zig zag & lompatan. 😃😃

Kamis, 14 Juli 2016

Polah Bocah

Ketika kau melihat ini, pertanyaan e mung siji : iki turun sopo??😂😂😂

Belajar Etika

Awalnya kami tidak janjian ketemu, hanya iseng telponan gegara bosen seharian peluk bantal. Kecapekan ngetrip toraja. Apalagi bapake full nyetir sorangan. Akhirnya kami mendarat di TSM dlm suasana tidak pas. Pukul 21.30 wita. Ameh opo jyal jam segitu? Ngupi? Sebentar pasti sudah digusah krn mall tutup jam 22.00. Akhirnya kami janjian nyari tempat ngupi. Cusss kami masing2 ngglinding ke tepi Losari.
Sampai TKP kami segera naik ke lt 2 krn kami bawa anak2. Lumayan lah tempatnya. Ada no smoking areanya. Aman.

Kami para orangtua ngumpul satu meja & para junior di meja yg lain. Awalnya memang aman.. pembicaraan seru di masing2 kelompok usia 😃. Lalu Mike mulai mendatangi kami dgn hidung berair. Tisyu, katanya.
Kenapa? Tanyaku sambil mengeluarkan kotak tisyuku.
Ada yg ngrokok, aku gak kuat. Hidungnya merah krn digosok2. Anak2 merak memang sensitif dgn asep, apalagi asep rokok.
Mataku tajam berkeliling. Aihhh.. rupanya satu pasang manusia di belakang mereka asyik klepas klepus sambil cekikikan. Di meja belakangnya lagi sepasang lagi mirip cerobong asep pabrik gula. Ngobrol siriyes tapi dari bibir keduanya asep tak brenti2 nya ngepul.
Hel tu the loooo!!! Ini ruang ac beib, ada tulisan yg gak kecil juga nempel di kaca : no smoking area, tapi mereka begitu menikmati kesenangan mereka tanpa melihat kebutuhan orang lain untuk bisa ngisep oksigen dengan lega. Pengen tak toyor ituh pala! Dari prejengannya, so pasti bukan manusia gak punya duit buat makan bangku sekolah. Wong beli minuman & makanan di kafe mereka mampu, penampilannya pun enggak bs dibilang murahan. Ketje badai dengan baju & aksesoriesnya. Eh lha tapi... etikanya pada ketinggalan di mana??
Karena anak2 makin kelihatan menderita, salah satu dari kami pun memastikan ke bawah, beneran nggak lokasi kami nancep itu area no smoking? Jangan2, ketiwasan kami negur ternyata tulisan itu cumak hiasan kosong belaka.
Dan jreng, jreng!! Benar sodara2...ada smoking area di balik pintu kaca. Njir!! Manusia2 muda ini perlu belajar etika rupanya.
Theo pun mampir di meja mereka, tolong matikan rokoknya, ini no smoking area, kata Theo dgn sopan. Lagian ada anak2 di situ, katanya sambil menunjuk para generasi muda penerus cita2 mulia bangsa endonesah. #lebay
Saat Theo kembali duduk, dua pasang manusia itu pun berinteraksi membahas teguran, rupanya mereka tidak terima. Atau "biasanya" tidak ada yg mengusik kegiatan mereka mungkin.. Mungkin hari ini mereka kurang makan menyan, jadi apes lah ketemu rombongan kami.
Lalu dengan pongah, satu gadis berkacamata memandang ke arahku sambil menggumamkan sesuatu, dan itu rokok masih menempel syahdu di bibirnya. Oalah nduukkk... ayu2 kupinge budeg.
Aku menunjuk tulisan di kaca : bisa baca nggak? Ini no smoking area? Kataku mulai kesal.
Bukannya paham, gadis belia itu malah ngomong : kenapa nyolot??
Widih, matane melotot. Ayune ilang.
Mbak e... sampeyan bisa baca tulisan itu ndak? Kalo mau ngrokok, di luar sono noh.. banyak meja kosong.

Oalaah dewa dewi penghuni swargalokaaaaa.. cobak kalo mamahku ada di situ, lak isoh darah tingginya langsung kumat. Jaman dulu, anak2 cukup punya aturan utk menghargai yg tua, biar itu bukan orangtuanya sendiri. Kepada yg lebih tua, siapa pun itu, generasi2 angkatan kami rasanya cukup punya unggah ungguh utk sopan bersikap, sekalipun mungkin yg lebih tua itu ngeselin selepel kamat dani atau haji lulung!

Entah apa yg membuat "anak2 sekarang" cenderung liar begitu. Kuingat lagi, anak2 muda juga tidak lagi punya waktu untuk sekedar menengok & melempar senyum ketika melewati tetangga yg lagi berdiri di depan rumah. Anak2 banyak yg tidak lagi bilang tabe', permisi... ketika harus mengambil sesuatu melewati org lain.

Iki njur salah e sopo? Dewa neptunus opo paus bongkok?? Atau tetep mau bilang salawi?? Salah ahok?? Pening pala ebieeee

Kami pun cepat2 mengajak para junior berlalu dari tempat itu. Sebelum kami harus "nyolot" lagi karena segerombolan manusia kembali datang, duduk di meja belakang anak2 & masing2 jarinya sudah methungul putih2nya kayak werkudoro mau perang.

Ealah duniaaa....
Mari pulang nak, aku ceritakan tentang surga dunia yg bernama Lolai, dimana hanya ada asap2 bergumpal dari bara kayu penanak nasi & bau embun yg akan menyegarkan rongga parumu.

Cuss nak... pulang yuk!

#maapbaliklolailagi 😃😃😃
*foto koleksi solusijantungkoroner.com

Petuah tentang : Mengelola Informasi

"HADIAH TIGA BUAH BONEKA"

Seorang pemuda bernama Zuki, merayakan ulang tahunnya yang ke-17 secara meriah di sebuah cafe terkenal di kotanya.

Puluhan hadiah dari rekan, kerabat, saudara dan kedua orang tuanya menambah kegembiraan hatinya menyambut "sweet seventeen", hari yang dinanti-nanti para remaja, menandakan seseorang sudah dewasa.

Sesampainya di rumah, satu persatu hadiah dibuka oleh Zuki. Ada jam tangan, rantai emas putih, dompet, pakaian, jaket dan sebagainya. Namun ada sebuah hadiah yang membuatnya sangat heran dan sedikit kecewa.

Hadiah yang diberikan oleh ayahnya adalah tiga buah boneka kecil dengan warna merah, kuning dan hijau. Karena merasa kesal, Zuki segera beranjak menuju ke kamar orang tuanya.

Dengan muka cemberut, Zuki menunjukkan boneka-boneka itu ke arah ayahnya : "Apa-apaan sich ayah ini? Mengapa memberikan hadiah tiga buah boneka? Emangnya saya ini seorang perempuan? Tidak pantas sekali pemberian dari ayah..."

Sambil tersenyum Ayah Zuki menjawab : "Jangan marah anakku Zuki... Ini adalah hadiah spesial untuk masa depanmu dari ayah..."

Zuki : "Hadiah masa depan? Memangnya boneka-boneka ini laku dijual seharga ratusan juta?"

Ayah Zuki : "Nilainya jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan. Sekarang coba perhatikan ketiga alat indera pada masing-masing boneka yaitu telinga, hidung dan mulut. Ada lubangnya..."

Kemudian Ayah Zuki memberikan seutas tali kepada Zuki. Sebenarnya Zuki sudah malas dan tidak mau mempedulikan ayahnya, namun tatapan mata sang ayah, menunjukkan sikap yang serius.

Ayah Zuki : "Cobalah kamu masukkan tali ini ke dalam salah satu telinga dari ketiga boneka-boneka ini.

Zuki mengambil tali dari tangan ayahnya dan mengambil sebuah boneka berwarna merah. Kemudian memasukkan tali tersebut ke dalam telinganya. Ternyata ujung tali keluar dari lubang telinga yang lainnya.

Sang ayah menyeletuk : "Kejadian ini menggambarkan sifat pertama manusia yang tidak pernah mengingat apapun yang dikatakan orang lain. Semua ucapan yang didengarkan akan keluar seketika dan dia tidak pernah menyimpan apapun di dalam memori otaknya..."

Zuki merasa seperti mendapat pencerahan sederhana dari sang ayah. Dia melanjutkan aktivitas memasukkan tali ke lubang telinga boneka kedua berwarna kuning. Kali ini, ujung tali keluar dari mulut boneka.

Ayah Zuki : "Kejadian yang terjadi pada boneka kedua ini menunjukkan sifat kedua manusia yang akan memberitahukan sesegera mungkin semua berita yang didengar oleh telinganya. Setelah itu, dia kembali akan membuka lebar-lebar telinganya untuk mendengar informasi dan menyebarkan kepada orang lain..."

Zuki mengambil boneka ketiga yang berwarna hijau dan memasukkan tali ke lubang telinga boneka ini. Ujung tali yang ditunggu-tunggu tidak keluar, baik dari telinga maupun dari mulut.

Ayah Zuki : "Ini adalah sifat ketiga umat manusia yang hanya mau mendengar informasi dan berita, lalu disimpan dalam memori otak, terkunci di dalam dan tidak pernah keluar atau menyebar kepada orang lain..."

Zuki : "Pasti ayah menyuruh saya untuk memilih. Jujur saja, saya sangat bingung mau memilih yang mana, Ayah..."

Ayah Zuki : "Bagus sekali jika kamu tidak mampu memilih, karena pilihan yang ada tidak lengkap. Pada boneka merah, ayah hanya melobangi telinga kiri dan kanan. Mulut dan hidung tidak berlubang. Boneka berwarna kuning, ayah hanya melubangi sebuah lubang telinga dan mulutnya. Sedangkan boneka ketiga, ayah hanya melubangi satu telinga saja, telinga satunya, mulut dan hidungnya sengaja tidak dilubangi..."

Zuki merasa penasaran, lalu bertanya : "Ayah, saya bingung, sebenarnya orang yang baik itu seperti apa?"

Ayah Zuki mengeluarkan sebuah boneka berwarna putih, lantas berkata : "Coba kamu ulangi memasukkan tali ke telinga boneka putih ini..."

Zuki mengikuti perintah Sang Ayah. Saat memasukkan tali ke lubang telinga, ujung tali itu keluar dari lubang telinga yang lain.

Ayah Zuki : "Ulangi sekali lagi..."

Kesempatan kali ini, tali keluar dari mulut boneka.

Ayah Zuki : "Coba kamu ulangi lagi..."

Zuki mengulanginya, dan kali ini, tali tidak keluar melalui mulut, hidung maupun lubang telinga yang satu lagi.

Ayah Zuki menepuk-nepuk bahu Zuki sembari berkata : "Ini adalah sifat manusia yang paling baik. Untuk menjadi seorang yang bijaksana, kita harus mengetahui timing (momen) yang tepat untuk mendengar, diam mencerna dan berbicara. Orang yang bijaksana pasti akan dipercaya dan disenangi orang lain..."

Zuki mengangguk dan tersenyum kepada ayahnya. Pelukan erat sang ayah disambutnya dengan pelukan yang hangat pula.

Ayah Zuki : "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa depanmu berkaitan dengan materi. Kamu adalah anak tunggal pewaris bisnis ayah, mau apa saja dapat ayah berikan. Namun yang paling ayah cemaskan adalah perilaku kamu ke depan nanti seperti apa? Semoga kamu bisa mengerti dan paham dengan apa yang ayah katakan barusan..."

Sobatku yang budiman...

Kebanyakan orang tidak mampu memilah-milah berita, informasi maupun pendapat dan saran apapun yang diterimanya dengan baik.

Ada yang tidak mau peduli, menganggap apa yang dikatakan orang lain itu adalah sesuatu yang tidak berguna. Masuk telinga kanan, langsung keluar dari telinga kiri.

Sesungguhnya informasi yang harus diperlakukan demikian adalah berita "sampah" atau hoax serta sesuatu yang yang tidak benar dan menyakiti perasaan kita. Lupakan dan jangan pendam di hati.

Ada yang suka membicarakan atau bergosip ria. Setiap informasi, berita atau pendapat orang lain, tidak peduli itu benar atau salah, dengan gampang disampaikan kepada yang lain tanpa melalui proses sensor.

Sesungguhnya informasi yang harus diperlakukan demikian adalah berita yang baik, mencerahkan dan membahagiakan orang lain, serta cerita motivasi dan inspirasi.

Dan, ada juga yang gemar memendam semua informasi dan saran orang di dalam hati. Seorang diri merasakan dan "menikmati" rasa bahagia dan pahit getir tanpa berniat berbagi kepada orang lain.

Sesungguhnya, informasi yang harus diperlakukan demikian adalah saran, pendapat atau kritikan yang membangun. Semua ini akan dijadikan cambuk untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi.

#firmanbossini

Sebuah sharing yg hebat!
Kadangkala kita memasukkan begitu banyak sampah dalam hati & pikir kita, sehingga kita pun menjadi lelah oleh beban yg begitu banyak, lalu terinfeksi virus2 negatifnya & kemuadian terkapar dalam nestapa yg menggelapkan nalar.
Mari bijak mengelola informasi di sekitar kita
*foto koleksi majalah.hidayatullah.com

INSPIRASI untuk KEHIDUPAN PERNIKAHAN

....sejak itu perkelahian kami berhenti.

Tulisan yg sangat bagus untuk para pasutri.
Ada di bagian dalamnya tuh aku banget. Menjadi pribadi yg keras & sulit dimengerti.
Namun selalu ada caranya Tuhan menunjukkan jalan untuk kembali.
Buat pasangan2 muda, teruslah belajar utk mencintai, ambil pengalaman2 para pendahulu untuk pembelajaran.
Yang baik dicontoh, yg jelek di skip. Terlalu banyak perbaikan yg harus dilakukan drpd harus pusing mengubah orang lain, meski itu teman sekasur sekalipun.
Selamat berjuang!!

Selama bertahun-tahun aku dan Keri berjuang keras mempert ahankan pernikahan kami yang selalu diisi pertengkaran terus menerus.
Di ujung keputusasaanku tiba-tiba terbersit suatu pemikiran yang luar biasa, "Kamu tidak bisa mengubah dia, Rick. Kamu hanya bisa mengubah dirimu sendiri".

Maka keesokan paginya aku memeluk Keri dan bertanya,
"Apa yang bisa kulakukan untuk menjadikan hari ini hari yang baik untukmu?"

"Apa?!", dia bertanya sengit.

"Apakah yang bisa kulakukan untuk membuat hari ini menjadi hari yang baik untukmu?"

"Kau tidak akan bisa! Mengapa bertanya seperti itu?", sengitnya lagi.

"Karena aku bersungguh-sungguh, aku ingin tahu bagaimana aku bisa membuat harimu baik", jawabku.

"Kau ingin mengerjakan sesuatu..? Sana bersihkan dapur!", katanya sinis.
Tampaknya dia ingin aku merasa jengkel dan gusar.

Tapi aku mengangguk dan menjawab, "OK".
Dan pagi itu aku membersihkan dapur.

Keesokan harinya aku melakukan hal yang sama, bertanya lagi kepada Keri, "Apa yang bisa kulakukan untuk membuat hari yang baik untukmu?"

"Bersihkan garasi!", katanya.

"Okay....", jawabku. Dan selama 2 jam aku membersihkan garasi.

Setiap hari aku bertanya seperti itu kepada Keri istriku.

Memasuki minggu kedua setelahnya, keajaiban terjadi.

Sewaktu aku bertanya, matanya menjadi basah dan dengan tertunduk Keri mulai menangis, "Jangan bertanya seperti itu lagi. Masalahnya bukan kamu, tapi aku. Aku orang yang sulit. Aku tidak tahu mengapa kamu tahan hidup bersamaku".

Aku memeluknya dan dengan lembut mengangkat dagunya sampai aku bisa menatap matanya dan berkata, "Karena aku mencintaimu".

"Seharusnya aku yang harus bertanya seperti itu setiap hari kepadamu", kata Keri.

"Ya. Tapi bukan sekarang ", kataku, "Sekarang aku yang ingin berubah. Aku ingin kau tahu betapa berartinya kau untukku".

"Apa yang bisa kulakukan supaya harimu baik?", Keri menanyakan pertanyaan itu sambil memandang lembut padaku.

"Bisakah kalau kita sekedar berdua bersama saja?", kataku sambil tersenyum.

"Aku suka itu", katanya sambil tersenyum memelukku.

Sejak itu "perkelahian" kami berhenti. Keri mulai selalu bertanya, "Apa yang kau butuhkan dari aku?"

Tentu saja bukan berarti semua permasalahan kami menghilang. Bahkan saya tidak bisa bilang tidak ada lagi pertengkaran sama sekali.
Tetapi situasi pertengkaran kami berubah, berbeda, kami tidak lagi bertengkar seperti musuh.

Saya tidak akan mengatakan bahwa ini akan sama untuk setiap orang. Saya juga tidak akan berkata bahwa semua pernikahan bisa diselamatkan dengan cara ini.
Tetapi kami bersyukur bawa sampai saat ini, setelah lebih dari sepuluh tahun, kami masih selalu saling bertanya, _"Apa yang bisa kulakukan untuk membuat harimu baik?"_

Ditulis oleh:
Richard Paul Evans

Pada Setangkup Roti Tawar

Mungkin awalnya hanya setangkup roti tawar biasa. Hanya merknya yg membuatnya lebih mentereng dr roti2 sebelumnya yg menduduki singgasana di atas kulkas itu.

Lalu pagi tadi, di atas slice perdananya mendadak bersemir mentega, lalu ada ceplok mata sapi yg genit menempel di atasnya & terakhir tertutup lagi dgn slice bersalut mentega. Biasa saja.

Mas koko dengan rambut basah keluar dari kamar mandi. "Ada sarapan apa?"
Aku tersenyum manis. "Tuh...,"kataku menunjuk meja makan. Kuteruskan menonton my Mother is a Daughter Inlaw.

Selesai dengan kemeja batik coklatnya, harum sabun itu semliwer di depanku & akhirnya mendarat di kursi sebelah.
"Hmmm.. rotinya enak, aku sukak tekstur telurnya. Meleleh."
Oups, si telur unjuk gigi...dia menetes melewati jemari mas koko, untung tidak membasahi cl panjangnya.

Acara sarapan selesai, segelas susu & segelas teh hangat kuletakkan di meja.
Setelah cipika cipiki & membuat tanda salip kecil di dahi, mas koko memelukku : terimakasih, sarapannya enak banget. Aku sukak. Hati2 bawa anak2 keluar nanti, jalanan mulai ramai lagi. Tuhan memberkatimu..."

Ada degup halus di ujung dadaku.
Tak ada yg istimewa memang, hanya... satu kalimat terimakasihnya pagi ini menadak begitu menyentuh rasa.
Walau cuma setangkup roti dengan telur ceplok, ada tulus yg membuatku terbang.

Terimakasih cinta...

Seperti secangkir kopi, nikmatnya memang harus dihidangkan setiap hari. Apalah jadinya kalau bubuk kopi itu tetap pada toplesnya & sang gula juga teronggok lesu di sudut meja, sementara air panas pun enggan dituangkan.

Aku belajar banyak pagi ini...

*foto koleksi www.ngopy.com

Naik Tingkat

Satu per satu anak2 merak mulai naik tingkat.
Hari ini kusaksikan 2 ekor yg tertinggal pun sudah meninggalkan pendidikan dasar menuju tingkat lanjutan.
Banyak cerita, banyak pengalaman mereka dapatkan hari ini.
Semangat ya Mike & Raphaella, raih semua asa & cita kalian.
Doa ayah & bunda mengiringi langkah ceria kalian.
Jadilah selalu anak2 terang kebanggaan Tuhan.

Pelajaran Baru si Mike

Ini hari ke 2 Mike & Vella mengikuti MOS. Hari ini mereka harus sudah sampai di skul pukul 6.30 WITA.
Awalnya semua manis2 saja. Terlalu perfect pagi ituh. Ayah bangun pagi, masih sempat buang sampah. Anak2 jam 5.30 sudah antri mandi & sarapan.
Bunda? Manis lah... dari jam 4 lantai dapur pun sudah tersapa ramah.
Cusss... jam 6.10 kami sudah nengkreng di body si black. Ayah dadah2 mengantar kami berangkat. Dia memang belom mandi, memberi kesempatan buat anak2 mengingat kamar mandi memang cuman satu.
Eiiit!! Tiba2 bocah lanang itu berteriak : "Tunggu!!" Dia pun terbang ke dalam rumah, meninggalkan kami yg terbengong-bengong. Pasti ada yg lupa.
Kami sudah hafal. Barangkali kalau hidungnya knock-down, pasti sudah ketinggalan di bawah bantal atau malah ketlingsut entah kemana. Hmmm...
Senyum tengilnya cepat sekali nongol dari dalam rumah : "Sudaaah!!!" teriaknya sambil menenteng sepasang kaus kaki. Hadeuhh!!
Sekali lagi aku mengingatkan mereka utk membawa tanda pengenal & topi, krn hari ini mereka upacara.
"Amaaan!!" jawab anak merak ganteng ituh. Kami pun berangkat. Dadah ayah!!!

Jalanan begitu bersahabat. Lengang & nyaman. Kugeber si black dgn kecepatan sedang, toh jalan dr rumah ke skul lurus2 saja.
Taraaa!!! Kehebohan baru terjadi saat mobil sudah menepi di depan skul.
"Topiku nggak ada!" teriak mas ganteng itu panik. Aku mendelik. Ya Allah Tuhan... lha aku tadi mbengok apa cobak???? #ngelusdasboard

Aku marah.
"Apa bunda bilang tadi? Siapkan di dalam tas, tapi kamu sibuk urus celana dari tadi. Bunda nggak mau balik lagi utk ambil topi. Waktunya ndak cukup lagi. Bahagiakan dirimu dgn pembelajaran hari ini nah..." Kupasang muka jutek.

Wajahnya sendu. Tapi aku salut, dia paham kalau dia bersalah. Tidak komen apa pun. Langkahnya gontai menuju halaman skul setelah kami cipika cipiki.
Ada sebersit rasa sedih dalam hatiku. Di dalam sana... Aku ndak tega, tapi harus tega demi dia. Campur aduk antara pengen tegas memberi teladan, tapi perasaan keibuanku tak kalah merdu menyanyi. Mpppffttt!!! Pasti begini yah dulu mamah merasakan punya anak bengel macam akikah 😊

Kami ber 2 menuju ke rumah, jalanan masih sepi. Tiba2 si cece usul : "Diantar saja yuk bun, gak tega aku ngliat wajahnya tadi."
"Sama! Aku yo rak tego..."
Akhirnya naluriku yg menang, ah sudahlah... toh dia sudah belajar sesuatu hari ini. Setidaknya, dia tau tentang mempertanggungjawabkan sebuah kesalahan.

Barangkali ini bukan sikap yg tepat, tapi asyudahlah... 😁. Aku belajar bersikap, cece belajar berempati, semua mendapat porsi pembelajarannya masing.

Luv yu all...

Rabu, 13 Juli 2016

Saya tidak tau seperti apa surga itu..

Mengapa kita mengurus surga kalau perintahnya adalah tentang cinta?

Lagi2 Pelajaran Service

Pagi itu selesai tugas perdana mengantar Mike & Vella, aku bersama Gabby kembali menuju ke rumah. Aku teringat, balok di jejeran petunjuk bahan bakar si Black tinggal 2 setrip.
"Mampir pom dulu ya...", Gabbyku mengangguk.
Berputar arah dari jalan cendrawasih menuju jalan kakaktua lalu berbelok ke KS Tubun. Cuss...sepi antrian.
"Kenapa jauh sekali pompa bensinya, bun" tanya Gabby.
Aku tersenyum. "Nanti kau akan tau jawabannya. Tunggu saja."
Seorang mas2 berseragam merah menyapaku : "Selamat pagi ibuk, mau diisi apa kah?"
"Pertamax 150 ribu mas," jawabku tersenyum. Kulihat Gabby memandang detail si mas dr ekor mataku.
"Pertamax 150 ribu di' ?" tanyanya lagi memastikan. Aku mengangguk. Masih kutempelkan senyum manisku di wajah.
"Dari angka 0 ibu!!" teriaknya dr seberang buntut si black.
Pengisian selesai. Si mas methungul lagi di sebelah ku.
"Pakai nota, ibuk?"
"Tidak usah mas."
"Baik ibuk, hati2 di jalan..."

Gabby ku tersenyum...
"Hmmm...cocok buat yg jomblo."
Aku mendelik : "Kenapa begitu?"
"Minimal jadi sejuk ada yg mengingatkan buat hati2 di jalan."
Kami cekikikan.

Itulah kenapa selama di Makassar aku tak mau berpaling ke pompa bensin yg lain.
Kalau bisa menikmati keramahan, mengapa harus mengorbankan kebahagiaan dengan mengisi tangki si black di pom lain.

Pekerjaan yg sama, namun ketika dilakukan dengan istimewa maka akan berbeda output & efeknya.

NB : foto bukan dari kejadian aslinya (daripada dikomplen 😂😂)

Sebuah Cerita Tentang Bahagia

Tulisanku beberapa waktu lalu

Tak terasa...2 aliran bening meluncur di pipi kiri & kanan q...
Tuhan sedang menyapa q dlm rupa 2 anak manusia di emperan Alfamart. 
Sesosok ibu yg mengajarkan ttg syukur & cinta thdp anaknya yg sedang bertumbuh...
Mereka bukan pasangan ibu & anak yg berpunya..mereka "hanya" keluarga pemulung yg baru bisa makan di jam yg sama sekali tidak bisa dibilang ideal. Jam dimana cinderella pun ketakutan utk melewatinya.
Ah nak...tiba2 kangen q menyeruak, hasrat memeluk ke 3 buah hati q tiba2 membuncah. Aq yg jauh berkelebihan dr ibu tua itu pun belum mampu mengukir senyum syukur di wajah anak2 q 😢...
Ah ibu...bahkan di susah mu, kau tak mengajarkan anak mu mengemis seperti kebanyakan orang2 yg terpinggir. Kau ajarkan sebuah ketegaran menghadapi kerasnya hidup ini.
Kau membuat kami 'malu'...ditengah segala kelimpahan, kadang hanya karena lama mengantri di KFC, kami mengomel panjang lebar. Padahal kau & anakmu bukannya berdiri di antrian gedung ber AC, melainkan di kerasnya jalanan kota besar yg berdebu dan harus menyelesaikan ikatan bekas botol air mineral terakhir, baru kalian boleh menikmati 2 bungkus nasi.
Tapi cara kalian menyuapkan sesendok demi se sendok nasi bungkus dgn sendau gurau & tatapan syukur, membuat gerakan kalian bgt anggun dimata q. Kearifan yg menyesakkan dada. Betapa bahagia itu begiiitu sederhanya. Hanya sebait syukur atas rejeki yg diterima saat itu. Cukup!
Tiba2 sekantung belanjaan alfamart diantar olh srg anak muda yg berbelanja tepat sesudah q tadi. Sang ibu hanya mampu mengangguk karena segumpal nasi sedang meluncur menuruni tenggorokannya.
Tak kusadari, ternyata suami q sdh turun menghampiri mereka. Menyelipkan seauatu di genggaman sang ibu. Kembali hanya anggukan & senyuman yg bs dilakukan, karna segumpal nasi kembali meluncur di tenggorokannya.
Ah ibu...lagi2 senyumanmu membuat q tercekat!!
Ah...kenapa harus mencari wajah Tuhan diantara hitamnya langit malam? Kalau ternyata...aq baru saja melihatnya...berkali-kali...

Terimakasih ya Bapa...kau memberi q banyaaaaak sekali sehari ini... 😇😇😇
Limpah syukur q atas semua penyertaan-Mu kepada q, kepada suami & anak2 q...

Dari aq yg semakin mencintai-Mu 😍😍😍