"Bun, lihat! Besok harus dikumpul. Aku pilih apa?" Tiba2 hidung kartun menyodorkan kertas. Isinya pilihan tentang ekskul.
"Lah adek sudah milih apa?"
"PMR."
Aku sedikit kaget. PMR butuh banyak energi & kemampuan otot rasanya. Sudah mampukah bungsuku melakoninya?
"Sudah paham apa itu PMR?" tanyaku menyelidik.
"Sedikit. Kayak rescuer tp versi anak sekolah. Am ai rait?"
"Yup! Dan itu artinya selain brain nya jalan juga harus punya fisik bagus utk bisa menghandle korban loh. Adek yakin mampu? Latihannya kayak pramuka, mungkin sedikit lebih serius krn kalian sudah SMP. Pengetahuan dasar ttg pertolongan pertama pada kecelakaan pasti dapat. Trus pasti ada latihan fisiknya plus latihan2 gabungan dgn kakak2 PMR yg levelnya di atas kalian supaya pengalamnnya bertambah juga. Butuh banyak tenaga. Yakin mampu?"
Anak ini memang pintar, tapi sebagai ibu yg melahirkan & mengasuhnya sejak bayi, aku paham kekurangannya. Dan bahkan sampai saat ini pun masih banyak terapi yg harus dijalaninya. Sedikit rasa tidak rela, ah..bukan tidak rela, tapi khawatir dgn keadaannya.
"Ndak mau ikutan jurnalistik? Katanya pengen jadi penulis cerita?"
Aku mencoba peruntungan, siapa tau dia goyah iman.
"Memang sih pengen. Tapi kayaknya jadi anggota PMR itu lebih mulia. Bisa berguna bagi sesama. Kalau jurnalistik kan belajar buat diri sendiri bundee.. Katanya hidup itu harus berguna buat sesama..."
Wik!! Kalimatmu nak!! Aku tertohok.
"Jurnalistik juga berguna buat sesama kok. Tulisan2 mu bisa menginspirasi orang lain." Kilahku mencoba menggapai peluang.
"Tapi efeknya lama. Kalau PMR, pas upacara aja aku sudah bisa berguna buat sesama. Bagus kan?"
Ngeyel!! Sejak dalam kandungan bakat ngeyelnya sudah terbentuk.
"Ya sudah, terimakasih sudah mengajak bunda berdiskusi. Setidaknya adek tau plus minusnya jurnalis & PMR. Tinggal adik memilih mana yg sesuai sama kondisi adek. Okay??"
Kulihat senyumnya mengembang. Sejujurnya aku pengen mempengaruhi pikirannya utk mengikuti mauku. Setidaknya dia aman di jurnalistik. Gak perlu banyak aktifitas fisik. Tapi hati kecilku melarang.
Esoknya dia bersekolah seperti biasa. Kuingatkan utk membawa kertasnya waktu dia hampir berlalu ke sekolah bersama bapak merak.
"Tidak lupa kertas ekskulnya kan?" tanyaku memastikan.
"Sudah."
"Jadi diisi apa?" Aku masih berharap, siapa tau semalam dia memikirkan argumenku.
"Belum yakin. Nanti saja di sekolah."
Oh...
Hari itu, menunggu jam 1 terasa begitu lama & menggelisahkan.
Waktu kulihat kucirnya bergoyang ditingkah lambaian tangannya menyongsong hadirku, aku berharap-harap cemas.
"Akhirnya aku mantab pilih PMR. Tadi dijelaskan apa saja kegiatannya. Mengasyikkan. Tapi ada beberapa kegiatan outing yg mungkin butuh biaya tambahan. Gak papa kan bun?" celotehnya riang.
Aku melihat binar bahagia di matanya & semangat di rangkaian katanya.
Walau hati ini ada sedikit khawatir, setidaknya, aku tidak memangkas sayap2 harapannya. Dan aku bahagia.
"Okelah kalau begitu. Jadilah anggota PMR yg hebat. Bunda pasti mendukungmu."
Terbanglah wahai anak2 ku. Carilah bahagiamu. Kami hanya mampu membalutmu dgn doa2 yg kamirangkai dr untaian perjalanan kami dari harinke hari.
Setidaknya aku tidak memangkas bahagiamu. Aku bahagia.
"Tuhan telah menciptakan pada kalian jiwa bersayap untuk terbang mengarungi cakrawala cinta dan kebebasan. Betapa sedihnya memotong sayap itu dengan tanganmu sendiri dan menyiksa jiwamu seperti kutu yang merayap di atas bumi” (Kahlil Gibran)
Waktu SMA dulu pernah aku ikut PMR dan kegiatan outbond nya itu di Messawa...Polewali.....Asyik lho.....
BalasHapusHahai..itu yg sll dibilang Vella. Asyik jalan2nya
Hapus