Kamis, 21 Juli 2016

Hidung Kartun & PMR

"Bun, lihat! Besok harus dikumpul. Aku pilih apa?" Tiba2 hidung kartun menyodorkan kertas. Isinya pilihan tentang ekskul.
"Lah adek sudah milih apa?"
"PMR."
Aku sedikit kaget. PMR butuh banyak energi & kemampuan otot rasanya. Sudah mampukah bungsuku melakoninya?
"Sudah paham apa itu PMR?" tanyaku menyelidik.
"Sedikit. Kayak rescuer tp versi anak sekolah. Am ai rait?"
"Yup! Dan itu artinya selain brain nya jalan juga harus punya fisik bagus utk bisa menghandle korban loh. Adek yakin mampu? Latihannya kayak pramuka, mungkin sedikit lebih serius krn kalian sudah SMP. Pengetahuan dasar ttg pertolongan pertama pada kecelakaan pasti dapat. Trus pasti ada latihan fisiknya plus latihan2 gabungan dgn kakak2 PMR yg levelnya di atas kalian supaya pengalamnnya bertambah juga. Butuh banyak tenaga. Yakin mampu?"
Anak ini memang pintar, tapi sebagai ibu yg melahirkan & mengasuhnya sejak bayi, aku paham kekurangannya. Dan bahkan sampai saat ini pun masih banyak terapi yg harus dijalaninya. Sedikit rasa tidak rela, ah..bukan tidak rela, tapi khawatir dgn keadaannya.
"Ndak mau ikutan jurnalistik? Katanya pengen jadi penulis cerita?"
Aku mencoba peruntungan, siapa tau dia goyah iman.
"Memang sih pengen. Tapi kayaknya jadi anggota PMR itu lebih mulia. Bisa berguna bagi sesama. Kalau jurnalistik kan belajar buat diri sendiri bundee.. Katanya hidup itu harus berguna buat sesama..."
Wik!! Kalimatmu nak!! Aku tertohok.
"Jurnalistik juga berguna buat sesama kok. Tulisan2 mu bisa menginspirasi orang lain." Kilahku mencoba menggapai peluang.
"Tapi efeknya lama. Kalau PMR, pas upacara aja aku sudah bisa berguna buat sesama. Bagus kan?"
Ngeyel!! Sejak dalam kandungan bakat ngeyelnya sudah terbentuk.
"Ya sudah, terimakasih sudah mengajak bunda berdiskusi. Setidaknya adek tau plus minusnya jurnalis & PMR. Tinggal adik memilih mana yg sesuai sama kondisi adek. Okay??"
Kulihat senyumnya mengembang. Sejujurnya aku pengen mempengaruhi pikirannya utk mengikuti mauku. Setidaknya dia aman di jurnalistik. Gak perlu banyak aktifitas fisik. Tapi hati kecilku melarang.

Esoknya dia bersekolah seperti biasa. Kuingatkan utk membawa kertasnya waktu dia hampir berlalu ke sekolah bersama bapak merak.
"Tidak lupa kertas ekskulnya kan?" tanyaku memastikan.
"Sudah."
"Jadi diisi apa?" Aku masih berharap, siapa tau semalam dia memikirkan argumenku.
"Belum yakin. Nanti saja di sekolah."
Oh...

Hari itu, menunggu jam 1 terasa begitu lama & menggelisahkan.
Waktu kulihat kucirnya bergoyang ditingkah lambaian tangannya menyongsong hadirku, aku berharap-harap cemas.
"Akhirnya aku mantab pilih PMR. Tadi dijelaskan apa saja kegiatannya. Mengasyikkan. Tapi ada beberapa kegiatan outing yg mungkin butuh biaya tambahan. Gak papa kan bun?" celotehnya riang.
Aku melihat binar bahagia di matanya & semangat di rangkaian katanya.
Walau hati ini ada sedikit khawatir, setidaknya, aku tidak memangkas sayap2 harapannya. Dan aku bahagia.
"Okelah kalau begitu. Jadilah anggota PMR yg hebat. Bunda pasti mendukungmu."

Terbanglah wahai anak2 ku. Carilah bahagiamu. Kami hanya mampu membalutmu dgn doa2 yg kamirangkai dr untaian perjalanan kami dari harinke hari.

Setidaknya aku tidak memangkas bahagiamu. Aku bahagia.

"Tuhan telah menciptakan pada kalian jiwa bersayap untuk terbang mengarungi cakrawala cinta dan kebebasan. Betapa sedihnya memotong sayap itu dengan tanganmu sendiri dan menyiksa jiwamu seperti kutu yang merayap di atas bumi” (Kahlil Gibran)

Mas Bule & Celana Sobek

Pada sebuah laporan tentang celono sragam suwek.
Aku bukan ibuk yg rendah suara.
"What?? Yok opo polahmu cah byaguusss... kowe kelas 7 opo kelas 1 SD??" jeritku menyesali kathok kotak2 anyar yg baru dipake sekali seumur hidupnya di smp rajawali kota daeng tercinta inih. #ngos2anjempolku

Sik ditanya ketawa bahagia sambil njawab : "Sudah lupa to kalau kemarin beli sragam putih biru?"

Arep tak unyel2, tak kethak, tak ambungi...tapi kok duwur e wis sak podo aku..... #rakpantes
Lalu aku teringat. Alasan apa yg membuatku mendarmabaktikan jiwa & ragaku sepenuh keikhlasan kalbu menjadi anggota paskib di SMA??

Konco2 sma ku we do ra ngerti sampek saiki. Ini sungguh2 wadi alias rahasia besar yg kusimpan hingga saat ini.
Tapi demi kalian, sungguh akhirnya aku harus bertwerus twerang saat ini :

Nek kon upacara trus aku ra tugas, sirahku ngelu trus aku semaput.
Bosen & bingung meh ngopo selama upacara.

Jyal, masih pantaskah aku bertanya :

bocah lanang byagus itu nurun sopo???

Selasa, 19 Juli 2016

Mas Bule & Dasinya

"Bun, dasi kotak belom ada," kata masbul tiba2.
"Kok kamu tau mas?" tanyaku heran.
"Aku tadi iseng ke bag seragam, katanya 2 minggu lagi. Untung sih gak ada?"
"Kok?"
"Coba ada, aku kan bingung... ternyata di sakuku cumak ada 8 ribu hahaha..."

Dasar masbul...😃😃😃
Tapi aku bangga, naik kls 7 kedewasaannya juga ikutan naik. Semangatnya utk memudahkan induknya membeli seragam yg blm lengkap sungguh membuatku harus mengacungi 4 jempolku.
Teruslah berkembang anakku.

Kearifan Tanpa Kasta

Kearifan memang tidak mengenal kasta.

Saya punya langganan baru untuk urusan permak baju. Penjahit rumahan biasa. Workshopnya di bangunan sederhana, bercampur dengan tempat tinggal di belakangnya plus toko kecil tempat mereka menjual aneka barang seperti permen, rokok, minuman ringan sampek pembalut juga ada. Pembalut baru tentunya (kelingan crita darah vampir). Di depannya ada etalase kecil tempat si istri menata dagangan berupa kue2 kecil yg orang jawa sukak bilang : "jajan pasar".

Kebetulan akhir2 ini ada sedikit keinsyafan utk mulai berpakaian sopan. Bukan dalam arti dulunya sukak pake yg seronok2 begono. Lagian, opone sik mau dipamerkan? Badan setipis papan setrikah. #lhamalahcurhat
Dulu, dulu banget yah... gaya perpakaianku lumayan slebor. Sak karepku. Mungkin mas koko juga sedikit empet melihatnya. Cukup kalau istrinya dikasih "huuh" saat memasuki daerah penjualan t-shirt & celana jeans. Aman lah.
Akhir2 ini induk merak mulai tergoda untuk memakai batik. Biasanya memang batik bersliweran di pojok2 kamar menanti pengiriman alias utk  di jual saja. Tapi embuh setan apa yg merasuki, kok lama2 barang dagangannya jadi terasa lucu n ketjeh buat dicobak yah? 😃😃 #tolongtidakusahdiusirsetannya

Tapi ya maklum, namanya beli onlen, kan ga ada yg fit plek to our body lah yawww. Kadang size M tapi LD nya ukuran Miss Piggy, yo mesti permak babak belur di area dada. 😛

Yo balik maning ke cerita bapak e itu. Kemarin aku minta tolong sm beliau membuatkan  celana biru esempeh utk masbul plus minta tlg permak batik baruku yg ujung lengan e ngecenceng naik. Jadi kalau dipake tuh ya, aku jadi macam pake baju jazirah ngono. Jadi aku mintol bapak e utk nge-grek dikit ujungnya. Plus jahitin celana kotak2 barunya masbul (hel tu the looo!!! Catet yah : celana seragam, gris baru datang dr tokonya) & baru dipakek sekali. Sekali doang saat ituh. Pun segera sobek gegara polahannya. Paham kan sayang, seperti apa polahan joko 13 taun yg namanya Micahel Krishna Shaka Maheswara tralala ituh...

Pun. 2 hari berlalu. Tadi pagi kuambil jahitanku.
"Sudah jadi pak?"
"E sudah ibuk, ambil mi sama istri saya."
Si bapak sudah siap dgn motornya membonceng anak tengahnya mau sekolah.
Yup, kantong item isi celana plus 1 dress batik kuterima dr tangan istrinya.
"Berapa ?"
"Tidak usah," begitu jawabnya dr atas motor.
"Ih lha... ini kan dijahit. Berapa ki bapak?"
"Eh, ndak usah ibuk. Itu kan cm jahit sedikit."

Aku melongo. Weh pak.. biar sedikit, kalo saya yg harus njait ya jadi brutal! Mesti beli mesin jahitnya berapa duit, njur mecucu ngomel sambil ngesumel menyesali kenapa celono anyar bisa jimbret njlepat semua begono, itu lebih dari sekedar duit pak. Itu mengorbankan rasa & hatiii #hiks

Karena ttp ngeyel, yo wis aku mengalah.
Dalam perjalanan pulang, aku merasa, betapa kayanya mereka. Aku yg barangkali gak perlu susah2 ngonthel pedal mesin jahit buat ngelahap seisi tokonya, kadang misi kwenceng berhitung dgn org lain. Mbethithil uthil e. #dilarangkerasngomenygini

Salam sungkem pak, matur nuwun sudah kerso jd utusannya Gusti buat mengingatkan saya.
Bahwa ; tak semua perkara bisa dihargai dgn mani....mani... mani.... #karonyanyi

Suwun nggih pak...

#fotokoleksi dearyzakiyah.wordpress.com

Minggu, 17 Juli 2016

Belajar dialoq

Dialoq itu butuh dipelajari, butuh dipraktekkan ber-kali2, sampai bisa mengerti : sakjane opo toh karepmu?

Bukan hanya ketrampilan melepas kata2, lalu hasilnya malah membumi-hanguskan rasa,
tapi harus ada tarian indah penuh makna, beralas hati yg tunduk merendah. Hingga akhirnya paham : itukah maumu wahai cinta?

Bukan juga jurus blokade dengan membungkam kata, hingga hanya suara jangkrik yg terdengar, itu membisu namanya.
Dialog datang dari 2 arah, bukan saling mencari celah untuk melakukan smash mematikan.
Datang dr 2 isi kepala yg membutuhkan jawaban & solusi.

Kalau mau menang2an, ikut saja kejuaraan tinju profesional. Yg menang akan dapat sabuk juara.

Tapi relasi bukan pertandingan memperebutkan mahkota juara...
Relasi adalah tarian jiwa yg runduk rendah memuji kebesaran Tuhan terhadap apa yg sekarang ada di depanmu, di genggamanmu, di jejak langkahmu, di hatimu, di seluruh jiwa kehidupanmu.

....dan pagi ini aku masih gembrobyos mempelajari liukannya. Rupanya otot2 rasaku masih kaku, belum mampu menari dengan gemulai.
               ....maafkan....

Besok aku akan berlatih lebih dalam, agar polah & kataku tak terlalu tajam mengiris kalbumu.
.....karena proses penghalusan masih membutuhkan waktu. Semoga kau dimampukan menunggu saat itu.

               ....setidaknya aku belajar, bukan diam bertahan dlm banggaku.

              .....sekali lagi maafkan....

Quote

Dapet quote bagus pagi ini sesaat setelah mengantar "anak mbarep", mas bule & hidung kartun :

"Antarlah dengan bangga, lepaslah dengan doa."

Iyah...hari ini aku bangga dengan mereka, juga hari2 sebelumnya & hari2 mendatang.
Dan aku akan selalu melepas dengan doa, hai para kekasih hatiku.
Semoga segala kebaikan menyertai perjalanan hidup kalian, sehingga kalian boleh berbagi kebaikan dengan sesama.

Dari aku,

induk merak

Jumat, 15 Juli 2016

Mbak Suwarti

Inih beberapa prolog tentang mbak Suwarti.

#1
Kenal mbak Suwarti?

Ahh rugi klo ndak kenal dia.

Saya dong kenal..., anak2 merak juga kenal....

Mbak Suwarti itu kru nya kafe KFC yg di ratulangi Makassar. Kami sering ketemu waktu dia shift pagi.
Awal pertemuan kami adalah saat suatu pagi kami sarapan di sana. Si embak datang bersama srg laki2, mencium tangannya lalu masuk ke gerai (meibi suaminya). Dengan rambut tergerai mencapai pantat. Owesome!
Haiyah...saya bukan mau laporan tetang bagaimana dia akhirnya bersiap, memakai topi merahnya lalu memutar2 rambutnya menjadi sebuah konde rapi di belakang kepalanya. Bukan ituu... (Aih, tapi kenapa aku juga ikut mengulas cara dia memutar-mutar rambut toh 😃😃)

Usai memesan menu breakfast, karena bosan dengan paketan minuman sesi breakfast, kami lalu menuju kafe.
Si mbak methungul dari posisinya bebenah di lemari bawah showcase.
Selamat pagi, ada yg bisa saya bantu? Suara renyahnya memecah keheningan. Bibir merahnya merekah memamerkan senyum yg aduhai. Sebagai mantan CSO, saya bilang : that's great service!! Senyum hangatnya penuh semangat plus penuh ketulusan. Kami merasa homy.
Anak2 merak pun mulai memesan minumannya.
Ada crushersnya? Tanya hidung kartun.
Masih dengan senyumnya : "Aduh maaf, belum beku adik. Bisa diganti yg lain? Ice choco blended mungkin?
Bibir hidung kartun pun monyong, kecewa. "Ya sudahlah, gpp mba.. ice choconya aja," jawab Vella menyerah.
"Ok baiklah, 1 choco blended. Mas nya pesan apa?"
Mas bule tetap setia dgn ice green-tea latte nya.
"1 ice choco blended, 1 ice green-tea latte, ibu pesan apa?"
Aku juga masih setia dgn hot tea tarik kuh.
"1 hot tea tarik ibu, tidak coba paketnya ibu? Hanya 12 ribu sudah sepaket dengan donat?" Wajahnya tetap sumringah menawarkan promo itu kepadaku.
"Oh boleh lah mba... 2 kalau begitu."
"Baiklah, donatnya mau yg toping apa?"
"Cheese & oreo saja," jawabku.
"Baiklah ibu, 1 ice choco blended, 1 ice green-tea latte, 2 paket hot teh tarik dengan donut toping cheese & oreo. Totalnya sekian."
Aku membayarnya tunai.
"Ini struk & kembaliannya ibu, ibu duduk di mana?"
"Sebelah mba..tapi belum tau meja yg mana."
"Baik ibu, pesanannya akan saya antarkan, silahkan duduk. Ada lagi yg bisa saya bantu?"
"Ndak mbak, cukup."
"Baik ibu, terimakasih, silahkan datang kembali..."

Hangat... renyah... seperti tortila chips kesukaan kami. 😃😍

Just it? Mainstream banget kalo itu mah. SLA stp gerai KFC mungkin begitu kali ya.
Memang, tapi hal istimewanya adalah ketika dia memberikan hatinya bagi pekerjaan yg dilakukannya. Iya.. hatinya ada di wajahnya, ada di kata2 nya, ada di setiap gerakannya. Kami merasakan hangat hatinya. Itu yg membuatnya istimewa.

Lebih terasa bahwa dia memang istimewa pakai telor 4 adalah saat kami balik memesan makanan di konter makanan. Dilayani oleh seorang perempuan juga, bergincu merah juga, bertopi merah juga, berpenampilan rapi juga. Lalu ketika saya bilang : mba.. lupa, ayamnya yg ori yah... jangan crispy..
Dan si embak itu hanya memandangku dengan ekor matanya, lalu mengangguk tanpa senyuman. Aku lupa catet namanya 😃😃😃

Di situ saya merasa lelah 😃😃😃.
Bak naik roller coaster bagian yg turunan menukiknya.
Ow la..laaaa... hidup service excellent!!

Dulu saya pelaku SE, sekarang saya penikmat SE. Dan jujur, di kota besar sekaliber Makassar, saya begitu kesulitan menemukan manusia2 service yg kualitasnya excellent begini.

NB : lebih terasa terjun bebas lagi saat pergi ke Hero di MARI, saat membayar belanjaan, mbak kasirnya sibuk memasukkan barcode sambil ngobrol gayeng dengan rekan sebelahnya tanpa memandang saya sebagai customer.

Mbak hidung kartun lalu bisik2 : mbaknya itu kayak gak ada waktu buat ngobrol yah bun? Ada customer kok dicuekin, malah ngobrol seru sama pegawai lain.

Lalu ku bilang : ada manusia biasa yg menjadi istimewa karena dia menempatkan dirinya secara istimewa.
Ada manusia yg mau dirinya terlihat istimewa tapi memperlakukan dirinya biasa2 saja.

Paham kan bedanya sayang...

#2
Masih tentang mbak Suwarti

Tapi pagi ini kami ndak ke KFC. Bukan karena kemarin disindir sm tt Anastasia Helda, tapi kebetulan bunda merak punya stok naget sama telur, jd cuss bapak merak sarapan nasi merah plus naget & ndog ceplok. #podowaerasehate

Tau nggak, kemarinnya itu kami bawa princess solo Gabriella Kalyca ikut rombongan sarapan tak sehat utk pertama kalinya. Lalu hidung kartun pamer. Tunggu yah ce, kamu bisa lihat betapa hebatnya mbak Suwarti.

Kami masuk kafe.
Pagi ibu & mbak2... ada yg bisa dibantu?
(Kaaan...kata hidung kartun, sapaannya yahud)
Aku seperti biasa mbak, mas bule duluan pesan.
Baik, 1 ice greentea latte ya mas #senyum (1 yess buat ku)
Kali ini crusher nya sudah ready mbak, mau? (1 yess lagi)
Kontan hidung kartun bungah. Iya mau jawabnya sumringah renyah.
Ibu seperti biasa? (1 yess again) Donatnya toping apa?
Mas bule menunjuk donat bertoping chinamon dari showcase.
Ada lagi bu yg bisa di bantu? Tanyanya setelah mengulang pesanan kami.
Enggak mbak, cukup.
Baik bu, saya akan antar ke sebelah sambil membawakan kembalian. Mohon maaf uang kembalian saya tidak lengkap. (Lengkap sudah yess saya untuknya)

Kami tertawa-tawa melihat kegesitan mbak Suwarti sambil berjalan meninggalkannya ke ruang sebelah.

Setelah memesan menu sarapan, princess solo pun membuka pembicaraan.

Mbaknya yg di sini pun ramah, tapi jempolku habis buat pelayanan mbak Suwarti bun.

Ahai!!! Semua jempol habis untuk dia.

Nah anak2, pekerjaannya boleh sama. Tapi kenapa kita habiskan jempol kita pull untuk mbak Suwarti? Karena dia menjadikan dirinya istimewa di mata kita. Itu berarti dia juga menempatkan dirinya istimewa di mata Tuhan.
Itulah filosofi berkerja sebagai ibadah.

Pahamkan sayang??
Anak2 merak itu pun berkicau riang menyambut pagi kemarin.

Nah, hari ini saya mau pamer kalau cerita ini bukan hoax, saya berhasil membujuk mbak Suwarti foto.
Tadi pagi, selesai hepi2 jalan pagi sama teman2, kami mbubur di pinggir Losari.
Rupanya bapak merak masih pengen segelas teh tarik. Akhirnya kami sepakat menuju KFC nya mbak Suwarti.

Taraaa... seperti biasa, senyumnya bak layar terkembang. Lebar!
"Aih ibuk, paketan teh tariknya kosong,"sambutnya memulai sapaan dengan renyah. Masih dengan bibir merahnya & full senyum.
"Ndak papa mbak, biar tanpa paketan saya tetap teh tarik," jawabku sambil melebarkan juga senyumku. Biar gak kalah manis sm si embak. 😊
"Kalau adek biasanya pesan apa bun?" tanya si cece.
"Kalau yg cewek biasanya ice choco blended, kalau yg cowok green tea," jawab mba Suwarti mantab. Padahal aku sendiri kebingungan menjawab pertanyaan Gabby.
1000 poin lagi buatmu mbak 😃😃😃

Jadilah kami menikmati minuman pagi itu dengan hangat & manis pula. Walau sedikit ada insiden si ayah membuat beberapa butir air mata si cc jatuh.

Asyudahlah...senyum mbak Suwarti cukup membuat suasana kemripik lagi kok. 😍

#capturebyGabby
#abaikanygkuning 😃😃😃