Dialoq itu butuh dipelajari, butuh dipraktekkan ber-kali2, sampai bisa mengerti : sakjane opo toh karepmu?
Bukan hanya ketrampilan melepas kata2, lalu hasilnya malah membumi-hanguskan rasa,
tapi harus ada tarian indah penuh makna, beralas hati yg tunduk merendah. Hingga akhirnya paham : itukah maumu wahai cinta?
Bukan juga jurus blokade dengan membungkam kata, hingga hanya suara jangkrik yg terdengar, itu membisu namanya.
Dialog datang dari 2 arah, bukan saling mencari celah untuk melakukan smash mematikan.
Datang dr 2 isi kepala yg membutuhkan jawaban & solusi.
Kalau mau menang2an, ikut saja kejuaraan tinju profesional. Yg menang akan dapat sabuk juara.
Tapi relasi bukan pertandingan memperebutkan mahkota juara...
Relasi adalah tarian jiwa yg runduk rendah memuji kebesaran Tuhan terhadap apa yg sekarang ada di depanmu, di genggamanmu, di jejak langkahmu, di hatimu, di seluruh jiwa kehidupanmu.
....dan pagi ini aku masih gembrobyos mempelajari liukannya. Rupanya otot2 rasaku masih kaku, belum mampu menari dengan gemulai.
....maafkan....
Besok aku akan berlatih lebih dalam, agar polah & kataku tak terlalu tajam mengiris kalbumu.
.....karena proses penghalusan masih membutuhkan waktu. Semoga kau dimampukan menunggu saat itu.
....setidaknya aku belajar, bukan diam bertahan dlm banggaku.
.....sekali lagi maafkan....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar