Kamis, 14 Juli 2016

Belajar Etika

Awalnya kami tidak janjian ketemu, hanya iseng telponan gegara bosen seharian peluk bantal. Kecapekan ngetrip toraja. Apalagi bapake full nyetir sorangan. Akhirnya kami mendarat di TSM dlm suasana tidak pas. Pukul 21.30 wita. Ameh opo jyal jam segitu? Ngupi? Sebentar pasti sudah digusah krn mall tutup jam 22.00. Akhirnya kami janjian nyari tempat ngupi. Cusss kami masing2 ngglinding ke tepi Losari.
Sampai TKP kami segera naik ke lt 2 krn kami bawa anak2. Lumayan lah tempatnya. Ada no smoking areanya. Aman.

Kami para orangtua ngumpul satu meja & para junior di meja yg lain. Awalnya memang aman.. pembicaraan seru di masing2 kelompok usia 😃. Lalu Mike mulai mendatangi kami dgn hidung berair. Tisyu, katanya.
Kenapa? Tanyaku sambil mengeluarkan kotak tisyuku.
Ada yg ngrokok, aku gak kuat. Hidungnya merah krn digosok2. Anak2 merak memang sensitif dgn asep, apalagi asep rokok.
Mataku tajam berkeliling. Aihhh.. rupanya satu pasang manusia di belakang mereka asyik klepas klepus sambil cekikikan. Di meja belakangnya lagi sepasang lagi mirip cerobong asep pabrik gula. Ngobrol siriyes tapi dari bibir keduanya asep tak brenti2 nya ngepul.
Hel tu the loooo!!! Ini ruang ac beib, ada tulisan yg gak kecil juga nempel di kaca : no smoking area, tapi mereka begitu menikmati kesenangan mereka tanpa melihat kebutuhan orang lain untuk bisa ngisep oksigen dengan lega. Pengen tak toyor ituh pala! Dari prejengannya, so pasti bukan manusia gak punya duit buat makan bangku sekolah. Wong beli minuman & makanan di kafe mereka mampu, penampilannya pun enggak bs dibilang murahan. Ketje badai dengan baju & aksesoriesnya. Eh lha tapi... etikanya pada ketinggalan di mana??
Karena anak2 makin kelihatan menderita, salah satu dari kami pun memastikan ke bawah, beneran nggak lokasi kami nancep itu area no smoking? Jangan2, ketiwasan kami negur ternyata tulisan itu cumak hiasan kosong belaka.
Dan jreng, jreng!! Benar sodara2...ada smoking area di balik pintu kaca. Njir!! Manusia2 muda ini perlu belajar etika rupanya.
Theo pun mampir di meja mereka, tolong matikan rokoknya, ini no smoking area, kata Theo dgn sopan. Lagian ada anak2 di situ, katanya sambil menunjuk para generasi muda penerus cita2 mulia bangsa endonesah. #lebay
Saat Theo kembali duduk, dua pasang manusia itu pun berinteraksi membahas teguran, rupanya mereka tidak terima. Atau "biasanya" tidak ada yg mengusik kegiatan mereka mungkin.. Mungkin hari ini mereka kurang makan menyan, jadi apes lah ketemu rombongan kami.
Lalu dengan pongah, satu gadis berkacamata memandang ke arahku sambil menggumamkan sesuatu, dan itu rokok masih menempel syahdu di bibirnya. Oalah nduukkk... ayu2 kupinge budeg.
Aku menunjuk tulisan di kaca : bisa baca nggak? Ini no smoking area? Kataku mulai kesal.
Bukannya paham, gadis belia itu malah ngomong : kenapa nyolot??
Widih, matane melotot. Ayune ilang.
Mbak e... sampeyan bisa baca tulisan itu ndak? Kalo mau ngrokok, di luar sono noh.. banyak meja kosong.

Oalaah dewa dewi penghuni swargalokaaaaa.. cobak kalo mamahku ada di situ, lak isoh darah tingginya langsung kumat. Jaman dulu, anak2 cukup punya aturan utk menghargai yg tua, biar itu bukan orangtuanya sendiri. Kepada yg lebih tua, siapa pun itu, generasi2 angkatan kami rasanya cukup punya unggah ungguh utk sopan bersikap, sekalipun mungkin yg lebih tua itu ngeselin selepel kamat dani atau haji lulung!

Entah apa yg membuat "anak2 sekarang" cenderung liar begitu. Kuingat lagi, anak2 muda juga tidak lagi punya waktu untuk sekedar menengok & melempar senyum ketika melewati tetangga yg lagi berdiri di depan rumah. Anak2 banyak yg tidak lagi bilang tabe', permisi... ketika harus mengambil sesuatu melewati org lain.

Iki njur salah e sopo? Dewa neptunus opo paus bongkok?? Atau tetep mau bilang salawi?? Salah ahok?? Pening pala ebieeee

Kami pun cepat2 mengajak para junior berlalu dari tempat itu. Sebelum kami harus "nyolot" lagi karena segerombolan manusia kembali datang, duduk di meja belakang anak2 & masing2 jarinya sudah methungul putih2nya kayak werkudoro mau perang.

Ealah duniaaa....
Mari pulang nak, aku ceritakan tentang surga dunia yg bernama Lolai, dimana hanya ada asap2 bergumpal dari bara kayu penanak nasi & bau embun yg akan menyegarkan rongga parumu.

Cuss nak... pulang yuk!

#maapbaliklolailagi 😃😃😃
*foto koleksi solusijantungkoroner.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar