Pagi itu selesai tugas perdana mengantar Mike & Vella, aku bersama Gabby kembali menuju ke rumah. Aku teringat, balok di jejeran petunjuk bahan bakar si Black tinggal 2 setrip.
"Mampir pom dulu ya...", Gabbyku mengangguk.
Berputar arah dari jalan cendrawasih menuju jalan kakaktua lalu berbelok ke KS Tubun. Cuss...sepi antrian.
"Kenapa jauh sekali pompa bensinya, bun" tanya Gabby.
Aku tersenyum. "Nanti kau akan tau jawabannya. Tunggu saja."
Seorang mas2 berseragam merah menyapaku : "Selamat pagi ibuk, mau diisi apa kah?"
"Pertamax 150 ribu mas," jawabku tersenyum. Kulihat Gabby memandang detail si mas dr ekor mataku.
"Pertamax 150 ribu di' ?" tanyanya lagi memastikan. Aku mengangguk. Masih kutempelkan senyum manisku di wajah.
"Dari angka 0 ibu!!" teriaknya dr seberang buntut si black.
Pengisian selesai. Si mas methungul lagi di sebelah ku.
"Pakai nota, ibuk?"
"Tidak usah mas."
"Baik ibuk, hati2 di jalan..."
Gabby ku tersenyum...
"Hmmm...cocok buat yg jomblo."
Aku mendelik : "Kenapa begitu?"
"Minimal jadi sejuk ada yg mengingatkan buat hati2 di jalan."
Kami cekikikan.
Itulah kenapa selama di Makassar aku tak mau berpaling ke pompa bensin yg lain.
Kalau bisa menikmati keramahan, mengapa harus mengorbankan kebahagiaan dengan mengisi tangki si black di pom lain.
Pekerjaan yg sama, namun ketika dilakukan dengan istimewa maka akan berbeda output & efeknya.
NB : foto bukan dari kejadian aslinya (daripada dikomplen 😂😂)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar