Mungkin awalnya hanya setangkup roti tawar biasa. Hanya merknya yg membuatnya lebih mentereng dr roti2 sebelumnya yg menduduki singgasana di atas kulkas itu.
Lalu pagi tadi, di atas slice perdananya mendadak bersemir mentega, lalu ada ceplok mata sapi yg genit menempel di atasnya & terakhir tertutup lagi dgn slice bersalut mentega. Biasa saja.
Mas koko dengan rambut basah keluar dari kamar mandi. "Ada sarapan apa?"
Aku tersenyum manis. "Tuh...,"kataku menunjuk meja makan. Kuteruskan menonton my Mother is a Daughter Inlaw.
Selesai dengan kemeja batik coklatnya, harum sabun itu semliwer di depanku & akhirnya mendarat di kursi sebelah.
"Hmmm.. rotinya enak, aku sukak tekstur telurnya. Meleleh."
Oups, si telur unjuk gigi...dia menetes melewati jemari mas koko, untung tidak membasahi cl panjangnya.
Acara sarapan selesai, segelas susu & segelas teh hangat kuletakkan di meja.
Setelah cipika cipiki & membuat tanda salip kecil di dahi, mas koko memelukku : terimakasih, sarapannya enak banget. Aku sukak. Hati2 bawa anak2 keluar nanti, jalanan mulai ramai lagi. Tuhan memberkatimu..."
Ada degup halus di ujung dadaku.
Tak ada yg istimewa memang, hanya... satu kalimat terimakasihnya pagi ini menadak begitu menyentuh rasa.
Walau cuma setangkup roti dengan telur ceplok, ada tulus yg membuatku terbang.
Terimakasih cinta...
Seperti secangkir kopi, nikmatnya memang harus dihidangkan setiap hari. Apalah jadinya kalau bubuk kopi itu tetap pada toplesnya & sang gula juga teronggok lesu di sudut meja, sementara air panas pun enggan dituangkan.
Aku belajar banyak pagi ini...
*foto koleksi www.ngopy.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar